Powered by Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Soal Jenis Vaksin Terbaik, Peneliti: Minimal Butuh Waktu 5 Tahun Untuk Tahu

Oct 7, 2021

Spekulasi terkait antibodi mana yang terbaik, masih menjadi misteri. Karena tidak ada satupun yang menyebut secara pasti soal vaksin mana yang terbaik. Namun, peneliti mengaku butuh waktu minimal 5 tahun dalam memastikan hal tersebut.

Ilustrasi virus corona. Foto: IST

JAKARTA - Saat ini, ada sekitar 6 jenis vaksin yang telah beredar serta digunakan di Indonesia, diantaranya Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer dan Novavax.

Dalam diskusi virtual pada 6 Oktober 2021, anggota tim peneliti Vaksin Nusantara, Daniel Tjen mengaku, meski ke enam vaksin tersebut sudah digunakan di Indonesia, Namun, belum ada satupun yang menjamin terkait vaksin mana yang yang terbaik.

Daniel Tjen juga menyebut, vaksin nusantara dapat digunakan sebagai booster atau dosis ketiga. Menurutnya, vaksin Nusantara berbasis platform sel dendritik yang lebih banyak mengacu pada sel limfosit T.

"Pendekatan platform sel dendritik lebih banyak mengacu pada sel T-nya memori. Karena sifat sel dendritik imunoterapi itu untuk memperkuat imunitas, maka kuat digunakan untuk menjadi vaksin booster apapun platform yang digunakan," ungkap Daniel lewat diskusi virtual.

Selanjutnya, terkait kualitas vaksin mana yang terbaik, Daniel secara tegas memaparkan, bahwa vaksinasi Covid-19 bisa dikatakan varian virus yang masih relatif baru. Sehingga vaksin mana yang paling baik belum bisa ditentukan.

"Hal ini baru bisa diketahui 5 tahun ke depan, sekarang kita tidak tahu vaksin mana yang terbaik. Jadi minimal waktu 5 tahun lah baru bisa diketahui, oh ini vaksin yang lebih baik," ujarnya.

Sebagai informasi, Dijelaskan Daniel, antibodi yang dihasilkan pasca vaksin Covid-19, saat ini beredar masih mengalami penurunan imunitas selama 6 hingga 7 bulan kedepan. Menurut dia, hal itu berdasarkan laporan yang terjadi pada vaksin Pfizer.

"Jika dilihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi, termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tak terdeteksi. Karena memang mekanisme kerjanya berbeda," katanya.