Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Nestapa Petani Sawit Aceh: TBS Murah, Disunat Lagi 10%

15 Jul 2021

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nestapa petani sawit Aceh saat ini. Sudah harga beli tandan buah segar (TBS) di Tanah Rencong lebih rendah dari provinsi tetangga Sumut dan Riau antara Rp 200-250/Kg, harus dipotong lagi biaya sortasi TBS mencapai 10 persen jelang lebaran Idul Adha.

Fadhli Ali. Foto: Ist

BANDA ACEH - Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kepala Sawit Indonesia (DPW Apkasindo) Aceh, Fadhli Ali, mengatakan pemotongan sortasi pada pembelian Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Aceh khususnya di wilayah barat-selatan sudah makin menggila.

"Pembelian TBS yang dibeli oleh beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Aceh Jaya dan Nagan Raya sortasi sangat jauh dengan ketentuan yang ada," kata Fadhli Ali kepada TIMES.ID, Rabu (14/7).

Fadhli menuturkan, jika mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun, pemotongannya hanya sekitar satu persen untuk petani yang bermitra dengan PKS.

Sedangkan untuk petani yang bermitra atau petani swadaya pemotongannya yang mencapai tiga hingga empat persen masih bisa untuk ditoleransi.

"Tapi kalau sampai sepuluh persen, itu kan sudah luar biasa. Di Nagan Raya, sortasinya sampai sepuluh persen," ujarnya.

Fadhli menyebutkan, pemotongan sortasi pada pembelian TBS sawit di wilayah barat-selatan sangat jauh berbeda dengan wilayah timur yang hanya tiga sampai empat persen. Bahkan di Aceh Singkil hanya 2,5 persen.

"Dalam keadaan pandemi, PKS harus berempati kepada petani sawit untuk kebutuhan lebaran. Pihak yang berwenang di Nagan Raya ada yang memiliki PKS, harusnya harga TBS lebih mahal. Menjelang lebaran, pemotongan sortasi sawit menggila," jelas Fadhli.

Terkait hal itu, kata Fadhli, pemerintah melalui Dinas Perkebunan sudah menentukan harga pembelian TBS sawit. Ketentuan itu berlaku minggu kedua bulan agustus mendatang.

"Seharusnya itu sudah ada pedoman bagi PKS, baik wilayah timur-utara maupun barat-selatan. Harapan kita, ada peran aktif dari dinas kabupaten/kota setempat untuk melakukan pengawasan terhadap pembelian TBS oleh PKS," tuturnya.

Dalam hal kemitraan, Fadhli menyadari bahwa masih banyak petani yang belum bermitra dengan perusahaan. Jika ada pun masih sangat sedikit, seperti di wilayah Aceh Singkil.

Sebab itu, pihaknya masih bisa memaklumi soal harga pembelian sawit yang belum ideal sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Tetapi jangan terlalu jauh dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Apalagi, sudah harganya terlalu jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah tapi sortasinya juga besar sekali. Nah, itu sangat merugikan petani," jelas Fadhli.

Bukti pemotongan sortasi sawit di Aceh. Foto: Ist

Lebih lanjut, kata Fadhli, dalam hal ini para agen atau pengumpul buah sawit dari petani tidak mau merugi. Sehingga menyebabkan murahnya harga beli dari petani.


Fadhli menilai, hal tersebut seakan sudah menjadi kebiasaan sejak lama saat menjelang lebaran, di mana pihak perusahaan menekan para petani di Aceh.

"Ayoklah, ke depan ini, cara cara seperti itu tinggalkan. Apaksindo di daerah agar mengawasi, dan jika terdapat kejanggalan dapat berkoordinasi dengan DPW," sebut Fadhli.

Selain itu, Fadhli meminta agar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bisa memberi empati. Begitu juga dengan para petani supaya tidak memanen sawit yang masih mengkal atau belum matang, karena dapat mempengaruhi harga beli dan perkembangan tanaman.

"Gapki supaya berempati dalam hal ini, dan petani jangan memanen buah yang belum matang. Disisi lain, perkembangan tanaman juga terganggu," pungkasnya. (MA)