Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Untung Rugi Berkawan Sama China, INDEF Beberkan Faktanya

16 Jun 2021

Porsi untung rugi kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan China bisa dilihat dari neraca perdagangan antar kedua negara. Apakah kita untung, atau justru rugi.


Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati. FOTO: DPR

JAKARTA - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati tak sepakat dengan pernyataan Menko Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang melarang rakyat marah-marah sama China.

Klik: Dengerin Nih Pesan Menko Luhut: Jangan Marah Sama China!


Menurutnya, rakyat berhak meluapkan aspirasinya. Termasuk emosi, yakni rasa marah. Lagi pula, negara ini milik seluruh warga Indonesia. Sehingga apapun kebijakannya, termasuk kerja sama ekonomi dengan negara mana pun, salah satunya China perlu diawasi.

"Jadi apa haknya Luhut menyampaikan itu?" tanya Enny Selasa (15/6) malam.

Klik: Jika Hubungan Dengan China Baik, Ekonom: Kita Bisa Nyontek


Soal porsi untung rugi kerja sama ekonomi dengan China, gampangnya sebut dia bisa dilihat di neraca perdagangan antara kedua negara. Apa iya Indonesia diuntungkan, atau justru dirugikan.

"Neraca perdagangan kita dengan China itu, dulu kita surplus. Sekarang defisit. Impor kita dengan China itu sudah lebih dari 34 persen. Dari China sendiri sudah 36 persen. Itu hanya dari China. Melampaui total impor Indonesia dari negara asing," jelasnya.

Selain itu, untung ruginya investasi asing juga bisa dilihat dari tingkat serapan tenaga kerja, nilai tambah produk yang dihasilkan dari investasi tersebut hingga pengaruh terhadap cadangan devisa.

"Ketika tidak menghasilkan nilai tambah dan tenaga kerja ya tidak banyak berkonstribusi donk untuk kepentingan nasional," tutur Direktur Indef ini. "Atau malah kita tergantung sama impor bahan baku, misalnya," pungkas dia. 

Klik: Dukung Luhut, Ruhut: Harusnya Bersyukur, China Mau Berkawan


Sebelumnya, dalam konferensi pers, Selasa (16/6) Luhut minta agar jangan marah-marah sama China ketika melihat Indonesia mesra dengan negeri Tirai Bambu itu.

Luhut menyebutkan banyak keuntungan yang bisa dipetik Indonesia dari Negeri Tirai Bambu itu. Selain investasi, lapangan kerja hingva transfer teknologi.

Sejauh ini, hubungan Luhut dengan China memang tergolong mesra. Ia bahkan saling berbalas kunjung dengan orang kepercayaan Xi Jinping itu. 

Di bulan Januari 2021, Menlu Wang Yi datang ke Indonesia menemui Luhut di Danau Toba. Bulan ini, giliran Luhut pula memimpin rombongan berjumpa Wang Yi di China. Tentu bukan sekedar berkunjung, ada teken-meneken MoU juga. (AL)