Jika Hubungan Dengan China Baik, Ekonom: Kita Bisa Nyontek

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai Indonesia perlu merawat hubungan baik dengan China. Agar bisa nyontek ilmu-ilmunya dalam membangun ekonomi. 


Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan lagi salam siku dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi. FOTO: KEMENKOMARVES

JAKARTA - Josua berpandangan, hubungan baik dengan China bisa dilihat dari realisasi penanaman modal asing (PMA)-nya di Tanah Air.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, dominasi PMA masih dikuasai Singapura. Lalu kedua, China.

Klik: Dengerin Nih Pesan Menko Luhut: Jangan Marah Sama China!

Masing-masing kedua negara menggelontorkan investasi 2,6 milyar dolar AS atau setara Rp 37.06 triliun dan 1 milyar dolar AS atau Rp 14,2 triliun. Dari total PMA Rp 219,7 triliun yang masuk hingga kuartal I 2021.

Secara objektif, Josua mengakui bahwa mitra dagang utama Indonesia saat ini adalah China. Tak bisa dipungkiri. "Batubara dan CPO kita juga larinya ke sana," kata Josua dalam perbincangan tadi malam.

Soal perkara neraca perdagangan Indonesia dengan China yang masih defisit, menurut ekonom Bank Permata ini lebih disebabkan karena industri manufaktur Indonesia yang tak kunjung membaik setelah krisis 1998.

Klik: Untung Rugi Berkawan Sama China, INDEF Beberkan Faktanya

Sehingga ekspor Indonesia kebanyakan bahan mentah dan tidak bernilai tambah. Sementara China mengirim barang jadi, seperti mobil, mesin-mesin, alat elektronik dan lainnnya. "Semua made in China," sebutnya.

Karena itu, masuknya investasi China dengan membangun industri hilir, seperti smelter dan lainnya harus jadi kesempatan Indonesia buat 'nyontek'. Lewat transfer knowledge atau transfer teknologi. Setelah komitmen investasinya berakhir, Indonesia bisa mandiri.

"Sehingga produk kita juga bisa go internasional. Dan mampu membuat barang-barang berkualitas dengan harga yang lebih murah, sebagaimana China," tandasnya.
Hubungan baik dengan China diyakini akan menyokong usaha pemerintah untuk mewujudkan reindustrilialisasi sebelum 100 tahun Indonesia. Agar Indonesia bisa cepat keluar dari jebakan berpendapatan menengah atau middle income trap.

Jadi, ia juga ikut menyarankan agar masyarakat melihat data dan fakta untung rugi Indonesia berkawan dengan China. Agar tidak ikut-ikutan marah demgan China.

"Jangan marah-marah hanya semata-mata kita karena aseng. Semua ini (hubungan baik dengan China) demi pembangunan negara kita sendiri kok," tutur Josua.

Berangkat dari sesama dengan berkembang, China yang lagi naik daun adalah tempat nyontek yang tepat. Bukan Amerika: "Amerika juga sekarang pertumbuhannya stagnan," pungkasnya.

Diketahui, Menko Luhut berpesan agar publik jangan marah-marah sama China ketika melihat Indonesia mesra dengan negeri Tirai Bambu itu. Sebagaimana disampaikan dalam konferensi pers, Selasa (16/6).

Luhut menyebutkan banyak keuntungan yang bisa dipetik Indonesia dari Negeri Tirai Bambu itu. Selain investasi, lapangan kerja hingva transfer teknologi.

Sejauh ini, hubungan Luhut dengan China memang tergolong mesra. Ia bahkan saling berbalas kunjung dengan orang kepercayaan Xi Jinping itu. 

Di bulan Januari 2021, Menlu Wang Yi datang ke Indonesia menemui Luhut di Danau Toba. Bulan ini, giliran Luhut pula memimpin rombongan berjumpa Wang Yi di China. Tentu bukan sekedar berkunjung, ada teken-meneken MoU juga. (AL)