Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Kenapa Swab Antigen Kimia Farma Lebih Mahal?

27 Jun 2021

Maraknya perang harga swab antigen belakangan ini menimbulkan tanda tanya. Apakah kualitas dan akurasi swab antigen yang mahal sama dengan yang murah? Jika sama, kenapa Kimia Farma, selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ikut mengemban misi negara dalam penanganan Covid-19 malah mematok harga yang lebih mahal?


Spanduk swab antigen dan PCR tes Covid-19 di Rumah Sakit Jakarta Medical Center (JMC) di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan. FOTO: A YUSNA

JAKARTA - Jalanan di sepanjang Warung Buncit Raya, Kalibata, Jakarta Selatan lengang kemarin. Sejumlah toko, perkantoran, termasuk apotek tutup. Hanya raungan sirine ambulance yang lewat silih berganti di bawah guyuran hujan.


Namun, Rumah Sakit Jakarta Medical Center (JMC) di daerah itu tetap buka. Kami singgah, usai melihat 2 spanduk ukuran besar, warna merah dan biru yang nyaris menutup gedung bergaya arsitektur Romawi itu.

"Swab Antigen 84 ribu. PCR," bunyi tulisan spanduk merah.

Spanduk biru lebih tinggi. Dari lantai atas sampai bawah. Bagian bawah tampak tertutup jejeran mobil yang parkir. "Dijamin asli Kemenkes. (Bukan daur ulang). PCR 685 ribu," isi spanduk, yang hurufnya semua kapital itu.

Suasana mencekam, mulai teraaa sejak berada di pekarangan rumah sakit tersebut. Pasien penuh, meluber hingga ke tenda-tenda depan gedung. Parkiran juga dipadati sejumlah ambulance. Termasuk ambulance bermerek partai.

Beberapa petugas berpakaian hazmat tampak sibuk hilir mudik melayani pasien. Ada yang masih ngantri di luar dengan dibantu tabung oksigen, ada yang sudah digiring masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

"Menerima rujukan pasien Kemenkes. Untuk rawat jalan, rawat inap dan ICU Covid," bunyi spanduk lain, sepanjang sekitar 5 meter di gerbang lobi.

Kami nyaris tidak bisa masuk. Mentok di IGD. Karena dipenuhi pasien, keluarga dan tenaga medis yang tampak sibuk. Rata-rata pasien dan keluarganya mengenakan masker dua lapis. Wajah mereka terlihat panik dan harap-harap cemas.

Di tengah kepanikan itu, mobil pick-up warna hitam masuk membawa ranjang pasien. Tampaknya masih baru, tertutup plastik.

Salah seorang supir ambulance yang baru mengantarkan pasien dengan pakaian hazmat keluar dari mobil. Lalu kami menanyakan dimana ruangan swab antigen.

"Gak tahu pak. Saya cuma antar pasien aja pak. Ini lagi nunggu pasien lagi," katanya, dengan suara lemah. Kelelahan kentara terlihat dari langkah kakinya.

Keluarga pasien yang hilir-mudik di sekitar IGD juga tidak tahu, dimana ruangan layanan swab antigen. "Di sini cuma untuk pasien aja. Kalau untuk umum gak tahu," sebutnya.

Tidak jauh dari RS JMC ini ada apotek Kimia Farma. Hanya berselang 3 pintu ruko. "Tutup," kata salah seorang pria bersarung merah yang duduk di depan apotek.

Tapi di dalam terlihat ada karyawan perempuan berpakaian gamis hitam yang sedang bersih-bersih. Pintu apotek juga tidak dikunci.

"Libur mas tanggal merah," jawab mba-mba ini ketika merespons kami masuk.

"Biasanya swab antigen di sini berapa?" tanya kami. "Rp 190 ribu," jawabnya. "Loh, bedanya sama yang rumah sakit di samping apa ya? Kok bisa lebih murah? Apa daur ulang kali ya," tanya kami. "Gak kok, sama aja. Cuma beda tempat aja," jawabnya.

Sejauh ini, belum ada keterangan dari Kimia Farma kenapa harga swab rapid antigennya lebih mahal dari tempat lain.

Seperti diketahui, apotek milik BUMN itu pernah terjerat kasus swab antigen bekas. Yang berujung pada pemecatan seluruh Direksi Kimia Farma Diagnostika.

Di tempat, lain perang harga swab antigen juga marak. Bahkan apotik dan klinik yang masih satu deret bangunan saja harganya bisa beda.

OMDC Peduli Klinik Umum & Gigi misalnya. Ruko warna pink ini memajang spanduk besar "Swab Antigen 89 Ribu". Di sebelahnya, yaitu Klinik Kirana Medika memasang harga lebih murah. Di spanduk warna merah marunnya bertuliskan 'Swab Antigen 74 ribu'.

Meskipun harganya lebih murah, klinik tersebut membuat jaminan. "Dijamin asli Kemenkes. (Bukan Daur Ulang)," bunyi spanduk lagi.

Tak cuma di klinik dan apotek. Masyarakat juga bisa beli swab antigen di toko online. Tapi tanpa bukti surat. Harganya juga beda-beda.

Di Blibli.com, swab antigen merk Lungene, harga Rp 800 ribu dapat 25 pcs. Alat ini juga diklaim sudah izin Kemenkes. Sementara merk Abbot Panbio Ag harganya Rp 2.645.000. Dapat 25 pcs juga. Kalau merk GP Getein Biotech Rp 825 ribu dengan jumlah yang sama.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Masyarakat sudah menetapkan batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab. Yaitu Rp 250 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp 275 ribu untuk luar Pulau Jawa.

Namun, hingga berita ini ditulis belum ada penjelasan resmi terkait fenomena perang harga swab antigen maupun PCR test Virus Corona ini dari Kemenkes. Apakah benar kualitas dan akurasi swab antigen murah sama dengan yang mahal?

Pertanyaan ini perlu dijawab, agar tidak ada keraguan di kalangan masyarakat ketika hendak menggunakan swab antigen Covid murah atau yang mahal.