Powered by Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Analisa Pakar Gestur Ketika Jokowi Bilang 'Boleh' Dikritik BEM UI

Jun 30, 2021
Pakar gestur Handoko Gani menangkap gerak kedua siku Presiden Jokowi menyamping ketika bilang 'boleh-boleh saja'. Apa maknanya itu?

Pakar Gestur Handoko Gani. Satu-satunya orang sipil yang punya diploma teknik Lie Detector dan izin operasi global alat Layered Voice Analysis (LVA) di Indonesia. ILUSTRASI: TIMES

JAKARTA - Handoko menangkap gerak kedua siku itu, hanya terjadi sekali sepanjang wawancara. "Ketika beliau mengatakan boleh-boleh saja," sebut Handoko, ketika dikonfirmasi tadi malam.

Satu-satunya orang sipil yang punya diploma teknik Lie Detector dan izin operasi global alat Layered Voice Analysis (LVA) di Indonesia ini menjelaskan, gerakan itu mengisyaratkan bahwa kata 'boleh-boleh saja' Jokowi itu sebetulnya bersyarat.

Yaitu tetap pada tata krama dan sopan santun. Jika dilanggar, bisa jadi ada konsekuensinya.

"Itu gerakan gesture yang tidak sesuai ucapan. Ucapan ngomong 'boleh boleh saja' tapi gesture nya nyikut ke samping," jelasnya.

Di awal, ketika menyebut satu persatu julukan yang pernah disematkan padanya, Jokowi sebut Handoko ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah biasa dikritik.

Sementara di akhir, Jokowi ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar lip service. "Terbukti bisa mengatasi kritikan soal penanganan Covid di Indonesia," jelasnya.

Sementara dari analisa linguistik, Handoko melihat mantan Wali Kota Solo itu menunjukkan gradasi dari kritikan. Yakni ketika menyebut julukan planga-plongo, klemar-klemer, otoriter, dan bebek lumpuh. Termasuk yang terakhir king of lip service.

"Jadi, beliau ingin menunjukkan sudah biasa dikritik," nilai Handoko.

Memang, dari ucapannya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa kritikan itu biasa. Dan para mahasiswa lagi belajar mengekspresikan diri.

"Tapi... Nah Presiden justru ingetin soal sopan santun. Jadi, kritik ke Jokowi ini ndak sepenuhnya akan beliau diamkan," analisis Handoko.

Ia melihat, Jokowi masih oke-oke saja jika dikritik secara sopan dan santun. "Kalo sudah gak sopan, lebih dari sekedar tersinggung, beliau bisa saja bertindak tertentu," imbuhnya.

Seperti diketahui, kemarin Presiden Jokowi kalem ketika merespons wartawan soal sikapnya usai dikritik mahasiswa.

"Bagaimana Pak, tanggapan Bapak terkait poster mahasiswa-mahasiswa yang mengkritik Bapak?" tanya wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Ditanya begitu, Jokowi malah tersenyum. Itu terlihat ketika masker hitam yang dikenakannya dibuka. Air mukanya juga tak terlihat kesal ataupun jengkel. Dengan santai, mantan Wali Kota Solo itu malah menyebut satu-persatu julukan yang pernah disematkan untuknya.

"Dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer, ada yang bilang juga saya itu plonga-plongo, kemudian ganti lagi, ada yang bilang saya ini otoriter, kemudian ada juga yang ngomong saya ini bebek lumpuh," sebut Jokowi santai. Seperti menahan ketawa.

Jokowi juga menyebut julukan Bapak Bipang hingga yang terakhir: “The King of Lip Service”. Menurutnya, julukan terakhir itu adalah bentuk ekspresi mahasiswa di negara demokrasi.

"Jadi kritik itu ya boleh-boleh saja. Dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi," lanjut Kepala Negara.

Namun, ada tapinya. "Ingat, kita ini negara timur," ucap Jokowi.
(MA)