Museum Aceh, Destinasi Wisata Sejarah yang Selalu Ramai Dikunjungi di Banda Aceh

Di kawasan Museum Aceh terdapat makam raja-raja Aceh.
Rumoh Aceh yang sekarang berfungsi sebagai museum didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
 
Museum Aceh, Foto: Instagram @85.photogram

ACEH - Pemakaiannya diresmikan langsung oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh, yang bernama H.N.A Swart pada 31 Juli 1915.

Dilansir dari situs resmi kebudayaan.kemendikbud.go.id, bahwa bangunan ini berasal dari pavilium Aceh yang ditempatkan di de Koloniale Tentoonsteling atau arena Pameran Kolonial yang terletak di Semarang pada tanggal 31 Agustus – 15 November 1914.

Dikutip dari museumaceh.com, pada penyelenggaraan pameran yang dilakukan di Semarang, Paviliun Aceh memajang dan memaerkan koleksi yang sebagian besarnya merupakan milik pribadi F.W. Stammeshaus.

Selain koleksi milik Stammeshaus, di tempat ini juga dipamerkan benda-benda pusaka dari pembesar Aceh.

Pada pameran yang diselenggarakan di Semarang, Paviliun Aceh berhasil mendapatkan 4 medali emas, 11 perak, dan 3 perunggu serta piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik.

Baca Juga: Taman Putroe Phang Peninggalan Kesultanan Aceh jadi Destinasi Wisata Sejarah yang Banyak Dikunjungi di Banda Aceh 

Setelah pameran tersebut, melihat keberhasilan itu Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Sipil dan Militer Aceh, Swart, agar dibawa kembali ke Aceh.

Sehingga pada tanggal 31 Juli 1915 Paviliun Aceh dipulangkan kembali ke Aceh dan diletakkan di sebelah timur Blang Padang, Kutaraja (Banda Aceh sekarang). Museum ini akhirnya berada di bawah tanggung jawab penguasa sipil militer Aceh.

Sehingga setelah Indonesia merdeka, Rumoh Aceh ini berada di bawah tanggungan sipil lalu jadi milik pemerintah Aceh.

Sehingga pada tahun 1969, atas ide dan prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh ini dipindahkan ke Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah yang diletakkan di atas tanah seluas 10.800 m2.

Setelah museum dipindahkan, pengelolanya kemudian diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat.

Baca Juga: Benteng Indra Patra, Peninggalan Kerajaan Hindu yang Jadi Destinasi Wisata Sejarah di Aceh 

Museum Rumoh Aceh ini dibangun menyerupai rumah tradisional masyarakat Aceh, yaitu berbentuk rumah panggung.

Keistimewaan dari Rumoh Aceh dan sejenisnya terletak pada kekokohan bangunannya, sebab tiang-tiang rumah ini dibuat dari jenis kayu pilihan. Hal ini terbukti bahwa rumah tersebut sudah berdiri kokoh sejak dulu sampai sekarang.

Museum Aceh ini termasuk museum tertua di Indonesia, usianya saja sudah lebih dari 100 tahun.

Lima tahun setelah pemindahan tersebut, museum ini direhabilitasi. Selain bangunan utama, di atas lahan 10.800 meter persegi itu juga dibangun gedung pameran tetap, gedung pameran temporer, gedung pertemuan, perpustakaan, laboratorium, dan gedung galery.

Koleksinya pun terus menerus ditambah. Sehingga pada tahun 1975, pengelolaan Museum Aceh pun diserahkan ke Departemen Kebudayaan dan Pendidikan. Pada 28 Mei 1979, status tempat ini dinaikkan menjadi Museum Negeri Aceh.

Peresmiannya dilakukan oleh Daod Yoesoef, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudyaan kala itu pada 1 September 1980.

20 tahun setelah itu kewenangan penyelenggaraan museum ini diserahkan ke Pemerintah Daerah Aceh, sampai saat ini masih berada dalam tanggung jawab Pemerintah Aceh.

Pada 26 Desember 2004, museum ini tidak mengalami kerusakan oleh tsunami yang menerjang Aceh.

Di kawasan museum ini juga terdapat makam raja-raja Aceh, gapura kuno, dan lonceng Cakradonya yang merupakan hadiah dari Kaisar Tiongkok untuk Kerajaan Samudera Pasai, yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho pada abad 15.

Museum Aceh memiliki ribuan koleksi yang beraneka ragam, baik manuskrip, arkeologi, etnografika, seni rupa, tradisi, diaroma yang menyirat kekayaan budaya Aceh, dan lain-lainnya.

Koleksi tersebut menggambarkan jejak perjalanan sejarah peradaban dan kebudayaan Aceh dari masa ke masa.

Maka tak heran, jika museum ini jadi salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan.