Mengenal Alzheimer Disease

Penyakit Alzheimer merupakan gangguan penurunan fungsi otak yang bersifat kronik progresif
A. Definisi, Penyakit Alzheimer merupakan gangguan penurunan fungsi otak yang berpengaruh pada emosi, daya ingat dan pengambilan keputusan.Penyakit Alzheimer bersifat kronik progresif yang umumnya mengenai lansia berusia lebih 65 tahun. 

dr. Fauzia Eliza Saraswati.Foto: Icha.

TIMES.ID- Diperkirakan ada sekitar satu juta lebih orang berusia lanjut (manula) dengan kondisi demensia di Indonesia. Jumlah penderita demensia lansia ini diprediksikan akan meningkat menjadi 4 juta orang pada tahun 2050. Usia harapan hidup penduduk Indonesia diprediksikan akan terus meningkat, sehingga persentase penduduk lansia terhadap total penduduk juga diproyeksikan terus meningkat. Sebanyak 60 – 70 % manula Indonesia dengan demensia terdiagnosis mengidap penyakit Alzheimer. Setiap 3 detik, 1 orang di dunia mengalami demensia. Diperkirakan, ada 10 juta kasus baru penderita demensia diseluruh dunia setiap tahunnya.

B. Faktor Risiko Penyakit Alzheimer

Beberapa faktor risiko penyakit alzheimer, antara lain : usia, jenis kelamin, Riwayat penyakit dalam keluarga, genetik, disabilitas intelektual, psikososial dan vaskular.1,2 Usia merupakan faktor risiko terpenting penyakit Alzheimer.

Peningkatan risiko penyakit alzheimer seiring dengan peningkatan usia, yaitu sebanyak dua kali lipat tiap lima tahun pada usia diatas 65 tahun bahkan 50% individu diatas 85 tahun mengalami demensia.1

Faktor risiko penyakit Alzheimer yang dapat dimodifikasi, yaitu vaskular( hipertensi, hiperkolesterolemia, merokok, diabetes mellitus dan stroke). 3

C. Patofisiologi

Penyakit Alzheimer erat kaitannya pada tiga poin penting yaitu : atrofi kortek (pusat bahasa), melebar sistem ventrikel di otak dan atrofi hipokampus ( pusat memori).

Penyakit Alzheimer juga diduga akibat pengaruh dari Ab-amyloid, oligomer Ab, presenilin, disregulasi Ca2+, tau protein dan lisosom. 2

Teori Ab amyloid merupakan hal yang paling mungkin mendasari terjadinya penyakit alzheimer namun deposisi Ab memiliki hubungan lemah dengan atrofi neuron dan gangguan fungsi kognitif. 2 Plak amyloid yang timbul disekitar perubahan struktural mampu mengubah fungsi otak sementara hilangnya sinaps ditahap awal penyakit Alzheimer mengakibatkan disfungsi sinaptik, penurunan jumlah dendritik spines dan densitas sinaps dalam hipokampus serta kortek. Kehilangan dendritic spines meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi tersebut, bila berlangsung terus menerus akan memperburuk status mental dan fungsi kognitif penderita.2

Fungsi sinapsis juga ditekan dengan adanya peningkatan atau disregulasi Ca2+ yang berlangsung lama sehingga sinaptotoxicity dan atrofi. Keadaan ini berpengaruh terhadap fungsi belajar dan mengingat pada pasien Alzheimer.





Faktor – Faktor Diduga Terlibat dalam Terjadinya Penyakit Alzheimer

D. Gejala Penyakit Alzheimer

Untuk mengenali penyakit Alzheimer perlu diketahui beberapa gejala yang muncul pada penderita, yaitu :

1. Gangguan daya ingat

2. Sulit fokus

3. Sulit melakukan kegiatan yang familiar

4. Disorientasi

5. Kesulitan memahami visuospasial

6. Gangguan komunikasi

7. Menaruh barang tidak pada tempatnya

8. Salah membuat keputusan

9. Menarik diri dari pergaulan

10. Perubahan perilaku dan kepribadian





E. Deteksi Dini Penyakit Alzheimer

Terdapat fase transisi antara proses normal dan awal dimulainya penyakit Alzheimer. Fase ini terjadi selama beberapa tahun dan dikenal sebagai Mild Cognitive Impairmemt (MCI) yang ditandai dengan adanya keluhan memori subjektif dari keluarga serta gangguan fungsi kognisi. Kondisi ini hanya sedikit mempengaruhi fungsi intelektual penderita sehingga aktivias sehari – hari masih dapat dilakukan dengan baik dan belum terlihat tanda – tanda demensia.

Beberapa modalitas juga dapat dipakai untuk mendeteksi dini apakah adanya demensia atau preklinik Alzheimer dengan menggunakan MMSE, MoCa, dan lain sebagainya.

Pemeriksaan biomarka neuroimaging dengan Magnetic Resonance Imaging(MRI struktural dan fungsional) dan pemeriksaan LCS (b-amiloid dan protein tau) juga dapat dilakukan untuk diagnosis dini fase pre-demensia (MCI) dan preklinik penyakit Alzheimer.

Diagnosis dini dan terapi aktif akan memperlambat penurunan fungsi kognitif, risiko salah diagnosis serta penanganan yang tidak tepat.

F. Kesimpulan

Penyakit Alzheimer termasuk dalam penyakit demensia yang mana banyak diderita oleh lansia usia >65 tahun. Perlu diberikan pemahaman agar keluarga dapat beradaptasi dengan penderita agar kualitas hidup penderita juga baik. Maka dari itu sangat penting bagi sarana Kesehatan mengedukasi terhadap penyakit ini agar lebih peduli pada kaum lansia. Seperti slogan dalam Alzheimer Day “ Jangan Maklum dengan Pikun” .

DAFTAR ISI

1. Perdossi. 2015. Panduan Praktik Klinik : Diagnosis dan Penatalaksanaan Demensia.

2. Kocahan, S and Dogan, Z. 2017. Mechanism of Alzheimer’s Disease Pathogenesis and Prevention : the brain, neural pathology, N-methyl-D-aspartate Receptors, Tau Protein and other Risk Factor. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience, 15(1):1-8.

3. Gavurova, B., Kovac, V., Jarcuskova, D. 2018. Development of Regional in Disparities in Alzheimer’s Disease Mortality in the Slovak Republic from 1996 to 2015. Internasional Journal of Alzheimer’s Disease.

Penulis: dr. Fauzia Eliza Saraswati
Banda Aceh, Indonesia
Email: icha.fauzia21@gmail.com