Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Pro-Kontra Ucapan Hendropriyono Soal Palestina

21 Mei 2021

Pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono soal Palestina memantik pro-kontra. Karena dia bilang: Palestina bukan urusan kita. Ayo kita bedah, apa saja argumentasi yang pro dan yang kontra.


Jenderal TNI Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H. atau sering disebut A.M. Hendropriyono. Foto: Instagram @am.hendropriyono

JAKARTA - Ucapan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan anggota Kerukunan Keluarga (KEKAL) Akmil 1967, di Jakarta, Selasa (18/5) lalu. Menurutnya, Palestina dan Israel bukan urusan Indonesia, melainkan urusan bangsa Arab dan Yahudi.

"Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita," ucap Hendropriyono saat itu.

Purnawirawan TNI yang mendapat gelar Jenderal Kehormatan (HOR) ini meminta rekan seangkatannya tidak tinggal diam melihat Indonesia diserang pemikiran ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme, dan ideologi asing lainnya. Sebab, sudah banyak yang terbawa arus. Tidak hanya masyarakat biasa, ia juga menyebut oknum aparat militer, polisi, ASN hingga politisi.

"Mohon KEKAL Akmil 1967 tidak diam saja, tapi mikir, ngomong dan berbuat sebisanya," imbaunya.

Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) ini merasa ironi, ketika dirinya dilecehkan karena melawan ideologi asing dan membela Pancasila. Yang melecehkannya, justru secara menggebu-gebu membela Palestina. Hendro bahkan tak ragu melabeli pihak yang pro ideologi asing itu sebagai pengkhianat.

"Apakah pengkhianat itu kenal dengan Mahmoud Abbas, atau kenal dengan Ismail Haniyeh, atau kenal sama Reuven Rivlin, atau Benjamin Netanyahu? Saya yakin tidak kenal. Yang dia kenal adalah anak, istri, mantu, dan cucu sendiri. Kenapa yang dibela orang-orang yang tidak dikenal?” sindirnya.

Hendro mengingatkan bagaimana Libya hancur, hingga Muammar Khadaffi selaku pemimpin Libya yang dicintai 90 persen rakyatnya, tumbang. Biang keroknya, sebut dia adalah pengkhianat yang jumlahnya hanya 10 persen dari penduduk.

Mereka disebut terprovokasi oleh rayuan Barat dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), hingga membiarkan Khadaffi terbunuh. Ia berharap, Indonesia tak bernasib sama. "Kita harus tetap berdiri di atas Tanah Air bangsa kita sendiri. Bukan di atas tanah Palestina, bukan Israel, bukan Arab," tandasnya.

Namun, ucapannya itu memantik reaksi banyak kalangan. Salah satunya Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Ia menyayangkan pernyataan Hendropriyono itu.

"Pernyataan beliau tidak mencerminkan sikap seorang negarawan," kritik Mu'ti di akun Twitternya @Abe_Mukti.

Ia mengingatkan, dalam pembukaan UUD 1945 jelas tertulis bagaimana komitmen Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan agresi. Juga dituntut berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

"Solidaritas bangsa Indonesia atas nasib bangsa Palestina merupakan bentuk pengamalan amanat Konstitusi dan panggilan nurani berdasarkan Pancasila dan ajaran agama yang luhur," sambungnya.

Ia juga mengingatkan, bagaimana Presiden Jokowi, sebut Mu'ti dalam banyak kesempatan selalu menyatakan komitmen Indonesia mendukung perjuangan bangsa Palestina sebagai bangsa dan negara yang berdaulat.

Tokoh Papua, Christ Wamea bahkan lebih keras menyentil Hendropriyono. Ia menyebut eks Ketua Umum PKPI itu tak berperikemanusiaan.

"Yang bilang Palestina dan Israel bukan urusan kita itu pasti tidak berperikemanuasiaan," sentil Christ, di akun Twitternya @PutraWadapi. "Masa ada kejahatan kemanusiaan dia tdk mau peduli," sambungnya.

Anggota DPR dari Fraksi PKS Tifatul Sembiring ikut nimbrung merespons. Ia mengingatkan bahwa Israel adalah penjajah keji yang harus dilawan. Sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945.

"Israel itu penjajah yang keji, satu-satunya penjajah yang masih ada. Palestina negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Bukan urusan kita pak," cuit Tifatul di akun Twitter @tifsembiring, merespons berita yang memuat pernyataan Hendropriyono.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon juga ikut angkat bicara. Menurutnya, apa yang disampaikan Hendropriyono keliru. Apalagi, secara turun-temurun Indonesia selalu membela Palestina dan mengecam penjajahan Israel.

"Israel bangsa penjajah dan kita harus berjuang melawan penjajahan. Ini perintah konstitusi," kata Fadli, kemarin.

Namun, eks Waketum Gerindra Arief Poyuono justru bertolak belakang dengan Fadli. Ia mendukung pernyataan Hendropriyono. Menurutnya, kecaman Indonesia sejak dulu tak ada pengaruhnya.

"Setuju. Karena dari zaman Bung Karno mengecam dan mengutuki Israel tetap aja dicuekin sama Israel," kata Poyuono, seperti dilansir SindoNews, Rabu (19/5) lalu.

Pengamat Militer Sarif Idris juga ikut membenarkan pandangan Hendropriyono. Secara realistis, kata dia Indonesia memang tak bisa menghentikan konflik Palestina-Israel. "Mau apa kita? apa yang Pak Hendropriyono sampaikan memang apa adanya," kicaunya di akun @sarifidris.

Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha mengatakan dalam konteks geopolitik, Indonesia memang tidak berada dekat dengan episentrum konflik Palestina-Israel. Namun, berada di layer ke sekian dari konflik ini.

Jika bicara soal perdamaian, misalnya. Masih ada Amerika Serikat sebagai kekuatan utama. Lalu, Yordania selaku negara negara tetangga dan Turki sebagai pemegang otoritas sejarah karena pernah menaungi Palestina di bawah kekaisaran Ottoman atau Turki Usmani.

Karena itu, ia menilai pernyataan Hendropriyono tak bisa disimpulkan secara tekstual. Melainkan harus diterjemahkan secara konstekstual. Apalagi selaku purnawirawan TNI, Hendropriyono diyakini paham betul bagaimana Indonesia sejak dipimpin Bung Karno hingga saat ini tegas melawan Zionisme. Gelora Bung Karno (GBK), sebutnya masih berdiri sebagai monumen anti kolonialisme. Ketika Presiden Pertama Indonesia itu tegas menolak kontingen Israel ikut ajang Asian Games, saat Indonesia jadi tuan rumah tahun 1962.

"Mungkin ada maksud lain, bahwa jangan sampai kemudian kita salah memahami konflik Palestina-Israel, sehingga pengembangan diskursus yang ada di dalam negeri itu punya dampak negatif bagi kita sendiri," kata Arya, dalam perbincangan tadi malam.