Lacak Anak Buahnya Hingga Ke Malaysia

Tulisan ini adalah bagian keempat dari sekelumit pengalaman menemui kelompok bersenjata pimpinan Nurdin Ismail. Alias Din Minimi. Eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang paling dicari sepanjang tahun 2014-2015 lalu. 


Anggota Din Minimi yang ditahan di salah satu Lembaga Pemasyarakatan Aceh Timur (seragam biru) berfoto dengan salah seorang jurnalis (tengah). Foto: Muhammad

IBU-ibu secara berkelompok masih terlihat hilir mudik dari rumah Din Minimi. Padahal waktu itu, sudah lebih dari dua pekan Nurdin dan teman-temannya turun gunung.

"Sampai sekarang masih ada saja orang yang datang berkunjung," ujar Ismail, warga setempat saat berbincang.

Mereka datang dari berbagai desa untuk 'peusijuek' Din Minimi. Sebagian adalah saudara dan kerabatnya. 

Peusijuek adalah tradisi Aceh yang bermakna penyejuk. Salah satu ritual adat dengan memercikkan air menggunakan kuas tangkai dan dedaunan, lalu menaburi tepung tawar dari beras warna-warni, melingkar ke atas tubuh orang yang hendak di-Peusijuek . Dalam prosesi itu, diiringi pula bacaan doa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ritual adat ini lazim dilakukan pada saat prosesi pernikahan, sunat rasul, penyelesaian sengketa, menggunakan rumah atau kendaraan baru, pulang haji atau umroh, dan lainnya.

"Dulu tendanya sampai ke sana, cuma sudah dibongkar tinggal dua tenda saja, karena tetangga mau ada hajatan," ujar Ali, warga setempat saat berbincang.

Bagian Ketiga: Din Minimi Kebal Ditembak Senapan M16 & SS1 


Di atas nampan bundar berdiameter kurang lebih 40 cm buleukat (nasi ketan) dengan ragam hiasan diatasnya diantarkan ke rumah Din Minimi.

"Kami dari Alue Mirah," ujar salah seorang Ibu dari rombongan yang datang untuk Peusijuk Din Minimi.

"Lindungilah dia ya Allah, semoga disukeskan dia di dalam perjuangan," timpal yang lainnya.

Din Minimi memantik rokok, lalu menghisap dalam-dalam, baru kemudian melanjutkan obrolannya lagi. Sesekali dia terlihat asik memantik-mantik korek birunya seperti tengah memikirkan sesuatu. Lalu bangun dan mengulurkan tangan, bersalaman menyambut tamu.

Ia mengaku punya cita-cita khusus untuk para anggotanya. Dia ingin punya rumah, dimana dalam satu komplek bersama anggotanya. Keinginan itu bukan tanpa alasan, dia ingin memastikan anak buahnya tidak lagi mudah dituduh terlibat dalam kasus teror dan tindak kriminal. Dan tidak ada lagi kelompok-kelompok bersenjata dan pelaku tindak kriminal yang mengaku-ngaku anggotanya.

"Supaya setiap pagi keluar, sorenya pulang bisa kita pantau dalam satu komplek rumah. Lalu kita carikan pekerjaan yang pas untuk mereka," kata Din.

Memang belakangan, ada lagi kelompok bersenjata yang disebut-sebut pecahan Din Minimi, yaitu TRAK (Tentara Rakyat Aceh Keadilan) pimpinan Abu Rimba.

Kepala BIN Sutiyoso sebelumnya sempat menyebutkan bahwa ada tiga anggota Din Minimi yang sudah putus kontak dan memisahkan diri. Tapi menurut Din Minimi, Abu Rimba bukan bagian dari kelompoknya.

Sementara dua dari tiga anggota yang terpisah itu, Din Minimi mengaku sudah mendapat kabar keberadaan mereka. Din memastikan kedua anggotanya itu kini tidak lagi bersenjata. Sudah diserahkan ke Kodim Bireun.

Kontak terakhir, dua anggotanya tersebut saat ini tengah berada di Malaysia. Hanya si Dedi alias Belot yang belum diketahui keberadaannya.

"Ban-ban nyoe na ku kirem ureung keudeh u Malaya. Na jih ideh di Malaya, di jalan Haluan," ungkap Din. (Baru-baru ini ada saya kirim orang ke Malaysia. Ada di sana mereka di Malaysia, di Jalan Haluan).

Kelompok bersenjata TRAK pimpinan Abu Rimba yang mengaku memiliki kesamaan perjuangan dengan Din Minimi diketahui kini beranggotakan 40 orang. Kelompok bentukan eks kombatan GAM ini mengaku tidak akan menyerah, sampai tuntutan mereka benar-benar dipenuhi. Selain mereka, eks kombatan lain, yang tidak setuju dengan perjanjian damai dan masih tetap menginginkan merdeka juga tidak sedikit. Baik dari dalam maupun luar negeri, yang sewaktu-waktu juga bisa kembali angkat senjata.

Gerakan bersenjata hilang silih berganti. Sebelum kemerdekaan Indonesia, lebih dari 100 ribu pasukan Belanda tewas di Serambi Mekah ini. Dimulai dengan tewasnya Jenderal J.H.R. Kohler oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873. Walhasil, makam Belanda Kherkhof yang berdampingan dengan Museum Tsunami Aceh menjadi makam tentara Belanda terbesar di dunia di luar Belanda. Korban yang tidak sedikit  juga merenggut rakyat Aceh. Belum lagi jika menilik konflik bersenjata setelah kemerdekaan Indonesia. Kapan gejolak ini akan berakhir?

Yang pasti, nyanyian perang masih bersenandung di tanah ini, menjadi lagu penghantar tidur anak-anak Aceh.

Allah hai do...doda-idang...
(Tidak ada arti secara harfiah, semacam ninabobo-ninabobo)
Seulayang blang ka putoh talo...
(Layang-layang sawah sudah putus tali)
Beurijang rayeuk muda seudang...
(Cepatlah besar, anak muda)
Tajak bantu prang ta bela Nanggroe...
(Kita bantu perang, kita bela bangsa)...

Lagu ini terus mengalun lewat aplikasi pemutar video Youtube menghantarkan saya tidur, menutup tulisan ini. (*)

* Reportase ini pernah terbit di Harian Rakyat Merdeka