Malaysia Semakin Jauh Tertinggal, Militer Indonesia Diprediksi Akan Menjadi Kekuatan Utama di Asia Tenggara

Malaysia kini berhenti membeli Alutsista sebab tidak memiliki uang
Pada tahun 2000-2009 Malaysia boleh berbangga diri karena mampu membeli Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) kesana kemari mengalahkan Indonesia.

Ilustradi. Foto: Wikimedia Commons

JAKARTA - Namun, disaat Indonesia mulai menerapkan Minimum Essential Force (MEF), militer Malaysia bukan lagi tandingan yang berarti.

Saat ini, Indonesia tak perlu lagi menempatkan Malaysia sebagai pembanding kekuatan militer. Sebab militer Malaysia sekarang sudah jauh tertinggal dari Indonesia.

Indonesia saat ini diprediksi akan menjadi kekuatan militer utama di Asia Tenggara. Karena itu, Indonesia harus melihat jauh ke militer Australia sebagai perbandingannya, bukan lagi ke negeri tetangga Malaysia.

Malaysia sekarang sudah menghentikan pembelian Alutsista karena tidak lagi memiliki cukup uang. Sementara Indonesia justru sebaliknya. Pembelian jor-joran terhadap Alutsista terus dilakukan, mulai dari kapal selam, kapal perang, tank, helikopter hingga penambahan senjata perseorangan.

Bahkan sampai saat ini, Indonesia masih berambisi menambah kekuatan militernya dengan membeli jet tempur Rafale dan F-15 Eagle II. Ambisi militer yang diperlihatkan Indonesia membuat salah satu media China, cannews.com sempat mempertanyakan bagaimana cara Indonesia membayar uang tagihan dari pembelian tersebut.

Sebenarnya, Indonesia juga pusing memikirkan perihal cara membayar pembelian Alutsista yang dilakukan secara bersamaan. Namun, karena kebutuhan yang mendesak untuk modernisasi Alutsista, memaksa Indonesia harus mengeluarkan dana untuk belanja peralatan militer tersebut.

Akan tetapi, Indonesia punya cara untuk mensiasati hal itu. Ketika akan membeli Alutsista, Indonesia menyertakan syarat adanya transfer teknologi atau paket offset yang justru menguntungkan untuk negara. Karena dengan skema ini akan menekan pengeluaran anggaran pertahanan Indonesia.

Hal ini telah diakui oleh Rusia. Beberapa waktu lalu, mereka sempat menyatakan kalau Indonesia memang kesulitan keuangan. Tapi, Indonesia disebut selalu berusaha menemukan skema untuk menurunkan harga peralatan militer yang akan dibeli.

Berbeda dengan Indonesia, Malaysia malah memilih menghamburkan uang ditambah adanya skandal korupsi pada anggaran pertahanannya. Kasus yang paling memalukan adalah proyek unit fregat Gowind class. Meski sudah keluarkan anggaran yang banyak, tapi Gowind Malaysia malah tak ada yang jadi. Padahal proyek tersebut sudah dimulai sejak tahun 2016 dan sampai saat ini belum ada yang selesai.

Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob yang sekarang telah menjadi Perdana Menteri Malaysia sempat mengungkapkan bahwa proyek tersebut memang sarat rasuah. Karena itu, ia menyebut mereka harus segera mencari solusi. Setidaknya ada satu kapal yang jadi dan bisa melaut di jajaran TLDM.