Powered by Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Buntut Pelecehan Seksual Anak, IMM Minta P2TP2A Abdya Dievaluasi

Nov 27, 2020

Dalam unjuk rasa yang digelar di Bundaran Ceurana, Blang Pidie, kemarin, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh Barat Daya (Abdya) mengutuk pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Abdya.


  • Aksi unjuk rasa yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama DEMA STIT dan BEM STKIP Muhammadiyah Aceh Barat Daya mengutuk tindakan pelecehan terhadap anak di Bundaran Simpang Ceurana, Kamis (27/11). Foto: IST

BLANG PIDIE - Koordinator Lapangan Hendra Yusribar menyayangkan kembali terjadinya pelecehan seksual terhadap anak di Abdya.

Menurutnya, tidak adanya perlindungan kepada anak sama artinya dengan melakukan pelanggaran terhadap hak asasi anak.

"Perlindungan merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi, inilah yang disebutkan dalam konvensi hak anak," kata Hendra, dalam keterangan tertulis kepada redaksi, kemarin.

Agar peristiwa ini tak berulang, IMM mendesak Pemkab Abdya mengevaluasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A). Sebagai salah satu lembaga yang bertanggung jawab mengurusi masalah anak.

"Evaluasi sistem perekrutan pengurus, Standar Opersional Prosedur (SOP) penanganan kasus anak dan perempuan di P2TP2A," tandasnya.

Pihaknya mendesak Pemkab Abdya melalui dinas terkait untuk melakukan koordinasi dengan seluruh unit P2TP2A dalam merumuskan SOP kebijakan perlindungan anak. "SOP yang digunakan sebagai acuan supaya tercapainya perlindungan terhadap anak," jelas kader IMM Abdya itu.

Selain itu, pihak kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya juga diminta melakukan upaya penegakan hukum yang berpihak pada kepentingan anak sebagai korban kejahatan.

Selain memastikan percepatan proses hukum, pihaknya juga meminta agar kasus serupa tidak ada lagi yang luput dari proses penyelidikan atau dihentikan proses hukumnya.

IMM juga mengimbau tokoh masyarakat dan adat untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk menghentikan kekerasan pelecehan seksual terhadap anak. "Dengan nilai-nilai agama dan kearifan lokal," pungkasnya.