Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Epidemiolog: Corona Tidak Menular di Kolam Renang, Tapi...

18 Oktober 2020

Ahli Epidemiologi Dicky Budiman mengatakan Virus Corona bukan penyakit yang ditularkan melalui air atau waterborne diseases. Sehingga berenang tidak dilarang. Tapi, ada beberapa pantangan. Catat!

JAKARTA - "Potensi penularan melalui air sangat-sangat kecil sekali," kata Dicky mengawali obrolan via aplikasi percapakap WhatsApp, Ahad (18/10).

Sejauh ini, kata epidemiolog Griffith University Australia itu, belum ada laporan pasien Covid-19 yang tertular dari kolam renang atau kegiatan berenang.

Ada penyebabnya, kenapa virus tidak bisa bertahan lama di kolam renang. "Kolam renang mengandung klorin ya," lanjutnya.

Klorin adalah unsur kimia yang berlambang CI. Sering digunakan untuk menjernihkan air. Salah satunya air kolam renang. Klorin juga disebut sebagai salah satu zat yang sering digunakan untuk disinfektan.

Yang penting diperhatikan, sambung dokter Dicky bukan berenangnya. Tapi suasana di kolam renang.

"Kepadatan orangnya, kedekatan dia dengan orang lain ketika bicara di kolam renang. Itu yang menyebabkan droplet, aerosol. Itu harus jadi perhatian," pesannya.

Ia menyarankan, pengelola kolam renang harus memastikan kapasitas orang yang boleh diizinkan masuk. Maksimal, dalam satu waktu 1 orang per 4 meter persegi.

"Kalau misalnya 100 meter persegi ya dibagi 4 meter persegi, berarti ada cuma 25 orang," terang dia.

Kemudian, perlu adanya register online kepada setiap pengunjung kolam renang. Supaya setiap ada yang tertular mudah terdeteksi.

Selain identifikasi, juga memastikan orang yang ikut berenang bukan orang yang beresiko tinggi. Misalnya bukan orang tua, atau yang sedang sakit.

"Ada keuntungannya juga kalau terdeteksi, ya bila ada sesuatu bisa di-tracing, dilacak," imbuhnya.

Akan bagus, usulnya agar disediakan waktu untuk orang tua dengan sesama orang tua di waktunya. Harinya dikhususkan. "Khusus ibu hamil, khusus anak, ya begitu. Itu akan lebih menjamin," pungkas andidat PhD Global Health Security CEPH Griffith University itu.