Diberdayakan oleh Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

Di Buku Ini, Konsep Presisi Kapolri Dibedah Hinca

9 Mei 2021

Anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Demokrat Hinca Pandjaitan membedah konsep Presisi, yakni Prediktif, Responsibilitas dan Transparansi yang diusung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di 100 hari kerja pertama. Hasil bedahnya itu, dituangkan dalam buku berjudul Menguji Polri Presisi.


Buku berjudul Menguji Polri Presisi yang ditulis oleh politisi Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. Buku ini dterbitkan RM Books, bertepatan pada 100 hari pertama kerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, 6 Mei 2021. Foto: IST

JAKARTA - Buku setebal 456 halaman ini diterbitkan pada 6 Mei 2021 lalu oleh Rakyat Merdeka Books atau RM Books. Tepat 100 hari pertama kerja Kapolri. Kenapa 100 hari?

Menurut Hinca, sudah menjadi konvensi ketatanegaraan di Indonesia apabila sebuah lembaga berganti kepemimpinan, maka publik akan melihat evaluasi terhadap berjalannya lembaga dalam jangka waktu 100 hari pertama. Kebiasaan baik ini lahir pada saat Presiden ke-33 Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt. Saat mengumumkan Program Kerja 100 Hari yang bertajuk New Deal Program.

Dalam 100 hari pertama itu, ia menyelesaikan beberapa undang-undang seperti Agricultural Adjustment Adminsitracion Act dan National Industry Recovery Act untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Perlu diketahui, saat ia menjabat yakni pada tahun 1933, Amerika Serikat tengah dilanda The Great Depression.

"Beliau membuat program The First 100 Days dalam rangka memupuk kepercayaan publik terhadap pemerintahannya. Sejak saat itulah evaluasi terhadap kinerja 100 hari kerja kepemimpinan di seluruh dunia menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pemimpin tersebut membawa perubahan," kata Hinca dalam keterangannya, di Jakarta, Sabtu (8/5).

Nah, 100 hari pertama Jenderal Listyo Sigit memimpin korps Bhayangkara jatuh pada tanggal 6 Mei 2021. Selaku Anggota Komisi Hukum DPR, mitra kerja kepolisian, Hinca mengawal kinerja Kapolri. Terutama dalam menuntaskan Program Polri Presisi yang dicanangkan.

"Sudah banyak perubahan positif Polri yang saya saksikan sendiri," nilai politisi partai berlambang mercy ini.

  • Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Demokrat Hinca Pandjaitan saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Belum lama ini, ia menulis buku berjudul Menguji Polri Presisi. Foto: Instagram @hincaippanjaitanxiii

Ia melihat, ada berbagai aplikasi dan modernisasi sistem yang telah dibuat sebagai basis untuk memberikan pelayanan dan penegakan hukum menjadi lebih efektif.

Sebut saja Aplikasi Dumas Presisi. Sebuah aplikasi internal untuk memonitor pengaduan dari masyarakat, yang sudah dikeluarkan sejak Februari 2021 kemarin. Lalu, Electronic Traffic Law Enforcement yang diluncurkan 2 tahap pada Maret dan April lalu. Serta Program Layanan SIM Online yang memudahkan masyarakat untuk mengurus dan memperpanjang SIM ditengah situasi Pandemi.

"Virtual Police juga sudah dijalankan dengan pendekatan Restorative Justice," sebut eks Plt Ketum PSSI ini.

Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara itu mengakui masih ada beberapa kritik yang masuk terkait program Virtual Police. Karena dianggap membungkam kebebasan berekspresi masyarakat.

Ia mencatat, setidaknya Dittipidsiber telah menegur 419 akun media sosial yang terindikasi menyebarkan berita tidak valid. Menurut laporan yang ia terima, Virtual Police ini tidak bekerja sembarang. Namun melewati berbagai tahapan verifikasi.

"Saya pribadi memiliki harapan lebih terhadap Virtual Police ke depan. Juga diberdayakan untuk melacak tindak pidana penipuan di Media Sosial yang marak terjadi," harapnya.

Ia juga angkat topi, di hari ke 33 Jenderal Sigit langsung membentuk Posko Polri Presisi yang dikomandoi oleh Brigjen Pol Slamet Uliandi. Posko ini bertugas untuk menjamin program-program yang dicanangkan oleh Kapolri. Posko ini pula yang bertanggung jawab untuk memastikan agar program 100 Hari Kerja selesai dengan tepat waktu.

"Saya pribadi telah menyaksikan langsung betapa canggihnya sistem yang dibangun oleh Posko Polri Presisi untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh," aku Hinca.

Sejujurnya, kata Hinca 100 Hari itu merupakan waktu yang sempit untuk menilai secara utuh kinerja kepemimpinan. Tetapi lebih dari cukup untuk melihat kapasitas seorang pemimpin dalam membawa perubahan.

Menurutnya, Polri di bawah komando Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah meletakan pondasi awal dalam membangun institusi Polri yang modern. Semakin modern lembaga kepolisian, semakin sedikit pula kecenderungan bagi para personil polisi untuk melakukan penyelewengan.

"Karena semakin modern lembaga polisi artinya semakin terbuka pula ruang publik untuk memberikan masukan. Saya berharap kecenderungan baik ini diteruskan agar citra Polri semakin baik dan kinerja penegakan hukum semakin efekif. Bravo Polri!" pungkasnya.

Seberapa tajam pisau bedah yang digunakan Hinca dalam mengupas gagasan baru Presisi yang digagas Kapolri di buku ini? Beli bukunya di toko-toko buku terdekat atau langsung pesan via telepon: 0857 7918 9431 atau via Instagram @rmbooks.id.