Powered by Blogger.

Mobile Menu

Terbaru

logoblog

RESAH

02 May 2020
Sesunguhnya ini adalah keresahan. Bahwa kita tidak ingin membiarkan orang yang kita cintai terpuruk. Tak ada kata lain selain ingin mengucapkannya dengan sebuah tindakan. Yaitu mempertaruhkan nyawa sekalipun.

  • Ridlo Abdillah, Editor in Chief TIMES ID

Orang-orang bilang langkah itu adalah konyol. Orang-orang bilang langkah itu adalah tak ada jalan lain yang harus dilalui. Dan kita pun terperangkap dalam keresahan.

Di rumah kita resah. Di jalanan kita resah. Di pasar kita resah. Di dalam jiwa semakin resah. Sesaat kita menemui rumus alam sedang menjalani prosesnya, gempar lah bumi ini.

Ia sesuatu yang amat sulit terlihat dengan kasat mata. Dan karenanya, manusia di dunia menjadi tak menentu. Bukan soal angka statistik. Bukan soal angka-nilai mata uang. Lebih-lebih soal politik. Ini lagi-lagi adalah urusan fundamental. Yaitu, rasa yang begitu besar yang dimiliki oleh setiap insan hidup.

Kenapa makhluk di planet ini heran dengan keadaan pagi yang sepi. Lalu, semakin heran ketika di siang hari justru semakin sepi. Tak terkecuali saat hujan turun tiba, hari pun seperti berhenti. Aku pun menyepi.

Padahal, waktu tak ada beda. Padahal, terang dan gelap saling bergantian. Padahal, pohon-pohon selalu memberikan udara yang segar. Di saat itu juga, kita sedang tak mengotorinya.

Jika kita memejamkan mata, tenang terasa di pikiran. Kemudian kita tersadar dan terjaga, kita meyakini, kita benar-benar sedang merasa gelisah. Tentang detik ini, saat ini, tentang esok hari.

Apakah kita benar-benar akan merasakan bagaimana perpaduan pagi, sinar matahari, dan oksigen beriringan bersama. Lagi, dan risau, bagaimana dengan orang yang kita cintai? Apakah mereka akan menjalani hidup dengan baik-baik saja? Ini yang sesungguhnya dikhawatirkan milyaran manusia.

Mencekam, lebih mencekam, ketika manusia kehilangan arah. Semakin mencekam, ketika manusia tak tahu harus berbuat apa dan berdiam diri di tengah kegelapan.

Namun, tetap saja, ada yang merusak, rakus, dan brutal berperilaku semaunya. Seolah kehidupan ini hanya dimiliki olehnya. Tak peduli dengan siapa, yang penting bahagia, itu yang dimaunya. Kemudian alam bicara!

Orang-orang bisa mati justru lebih cepat dari yang seharusnya. Akhirnya mayat memberikan isyarat, orang itu semakin pongah, dan semakin membahayakan kehidupan. Orang itu akhirnya benar-benar bebal.

Langit pun gelap. Gemericik air terdengar pelan-pelan. Alunan musik terdengar indah di telinga. Di suatu tempat, orang-orang tetap resah karena ingin terus mencintai keluarganya.